Selamat datang, Relawan Muda!

Selamat Hari Kartini

Selamat pagi, Kartini…

KartiniSang mentari tertunduk malu membaca setiap baris surat yang kau tulis, Indah buah pikirmu tak membuat gelap menjadi gelap, tak banyak yang tahu dan tak benyak yang peduli, dalam gelap lilin tak pernah padam, itulah semangatmu…

Perlahan tapi pasti kau langkahkan kakimu ke dalam ruang dimana kau ingin, berkarya tanpa batas. “Habis gelap terbitlah terang” dalam surat mu harapan inilah yang kau siratkan.

Raden Ajeng Kartini, kini namamu abadi dalam bingkaian sebuah kata “KEBEBASAN”

Meskipun terlahir sebagai putri seorang bupati Jepara tidak membuatnya ingin mengangkat dagu, yah itulah kartini. Ya, istimewa, karena meski bisa dibilang hidupnya sudah cukup terjamin berkecukupan sebagai seorang keturunan ningrat dan istri pejabat pula, namun kegelisahan dan kegetiran nasib kaum wanita yang juga dialaminya sendiri di masa kecilnya, dipingit orang tua dan dinikahkan dengan pria yang dipilihkan orang tuanya, kebodohan kaum wanita dan rendahnya harkat mereka di mata kaum pria saat itu, mendorong Kartini muda yang terenyuh dan tersentuh bergolak jiwanya, menumpahkan luapan emosi dan pemikirannya ke dalam tulisan berupa surat-surat yang dikirimkannya kepada sahabat-sahabatnya semasa sekolah kecil dulu, yang kebanyakan wanita Belanda, betapa ia mendambakan membebaskan harkat dan mengangkat martabat kaum wanita Jawa (*baca: Indonesia) dengan memberi mereka hak-hak kodrati yang semestinya dan tidak kalah derajat dari kaum pria, yakni dengan melalui jalur PENDIDIKAN! Suatu jalur yang berbeda dan tak lazim, di kala perjuangan senjata bergerilya dan diplomasi lewat jalur politik menjadi pilihan banyak pejuang bangsa pada masanya.
Pada peringatan Hari Kartini tahun 2015 ini, perkenankan saya mencuplik beberapa penggalan surat-surat dari ratusan helai yang ditulisnya, yang 7 tahun setelah kematiannya yakni pada tahun 1911, seorang pejabat Belanda yang mengenal Kartini dan keluarga Bupati Jepara cukup dekat, J.H. Abendanon, lalu memilih 106 judul dari surat-surat Kartini yang berhasil dikumpulkannya, untuk diterbitkan dalam buku yang terkenal dengan judul: DOOR DUISTERNIS TOT LICHT, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul: HABIS GELAP TERBITLAH TERANG!

Semoga lewat cuplikan penggalan surat-suratnya, kita bisa lebih menghargai jasa pahlawan pendidikan dan pembela hak kaum wanita yang gigih dan progresif ini, pemikiran-pemikirannya yang maju melebihi zamannya, juga dari sisi sastra, surat-suratnya yang lugas dan jujur dengan diksi yang kaya dan alur penceritaan yang enak, tak jarang puitis, membuat kita bisa memahami kondisi yang dihadapi Kartini dan kaum wanita Jawa umumnya pada era itu, langsung dari sudut pandang orang pertama, seolah-olah kita juga turut mengalaminya sendiri! Luar biasa! =)
Saya tak akan berbusa-busa, langsung saja baca dan selami penggalan isi surat-surat R.A. Kartini berikut! Selamat membaca! ^^;

“… dan kami yakin seyakin-yakinnya bahwa air mata kami, yang kini nampaknya mengalir sia-sia itu akan ikut menumbuhkan benih yang akan mekar menjadi bunga-bunga yang akan menyehatkan generasi-generasi mendatang.” (Surat R.A. Kartini kepada Ny. Abendanon 15 Juli 1902-DDTL, hal. 214)

DDTL = DOOR DUISTERNIS TOT LICHT (Dari Gelap Timbullah Terang)

“… andaikata aku jatuh di tengah-tengah perjalananku, aku akan mati bahagia, sebab bagaimanapun jalannya telah terbuka, dan aku telah ikut membantu membuka jalan itu yang menuju kepada kemerdekaan dan kebebasan Wanita Jawa (*baca: wanita Indonesia)” – DDTL halaman 81

“Aku masih melihat senyumnya yang membuat raut mukanya bercahaya ketika ia berkata: “Ah, ibu, aku mau hidup 100 tahun. Hidup ini terlalu pendek. Pekerjaan banyak sekali menunggu. Dan sekarang aku bahkan belum boleh memulai.”
(R.A. Kartini kepada Nyonya Marie Ovink-Soer, yang sudah dianggap ibu oleh Kartini, sebagaimana ditulis Nyonya Marie dalam bukunya: Persoonlijke Herinnering aan R.A. Kartini)

“Teman-teman saya di sini mengatakan agar sebaiknya kami tidur saja barang 100 tahun. Kalau kami bangun nanti, kami baru akan tiba pada jaman yang baik. Jawa (*baca: Indonesia) pada saat itu sudah begitu majunya kami temukan, seperti apa yang selalu kami inginkan.”
(Surat R.A. Kartini kepada Stella Zeehandelaar, 6 November 1899)

Ketika Kartini menginjak usia 12,5 tahun, pada tahun 1892, ia pun harus meninggalkan bangku sekolah. Masuk ke pingitan! Ayahnya yang dalam beberapa hal boleh dibilang berpikiran maju, ternyata belum dapat melepaskan tradisi bangsawan kuno untuk memingit putrinya di dalam rumah sampai tiba saatnya nanti seorang pria datang melamarnya.
Betapa sedihnya Kartini dapat dibayangkan dalam surat-suratnya kemudian, antara lain surat berikut ini yang ditulisnya kepada Nyonya Abendanon, 8 tahun sesudahnya (dalam surat ini, Kartini memakai kata ganti orang ketiga tunggal untuk memaksudkan dirinya):

“Gadis itu kini telah berusia 12,5 tahun. Waktu telah tiba baginya untuk mengucap selamat tinggal pada masa kanak-kanak. Dan meninggalkan bangku sekolah, tempat dimana ia ingin terus tinggal. Meninggalkan sahabat-sahabat Eropah-nya, di tengah mana ia selalu ingin terus berada.
 

Ia tahu, sangat tahu bahkan, pintu sekolah yang memberinya kesenangan yang tak berkeputusan telah tertutup baginya. Berpisah dengan gurunya yang telah mengucap kata perpisahan yang begitu manis. Berpisah dengan teman-teman yang menjabat tangannya erat-erat dengan air mata berlinangan.
 

Dengan menangis-nangis ia memohon kepada ayahnya agar diijinkan untuk turut bersama abang-abangnya meneruskan sekolah ke HBS di Semarang. Ia berjanji akan belajar sekuat tenaga agar tidak mengecewakan orang tuanya. Ia berlutut dan menatap wajah ayahnya. Dengan berdebar-debar ia menanti jawab ayahnya yang kemudian dengan penuh kasih sayang membelai rambutnya yang hitam.
‘Tidak!’ jawab ayahnya lirih dan tegas.
Ia terperanjat. Ia tahu apa arti ‘tidak’ dari ayahnya.
Ia berlari. Ia bersembunyi di kolong tempat tidur. Ia hanya ingin sendiri dengan kesedihannya. Dan menangis tak berkeputusan.
Telah berlalu! Semuanya telah berlalu! Pintu sekolah telah tertutup di belakangnya dan rumah ayah menerimanya dengan penuh kasih sayang. Rumah itu besar. Halamannya pun luas sekali. Tetapi begitu tebal dan tinggi tembok yang mengelilinginya.”

Kepada Stella Zeehandelaar, dalam suratnya yang pertama, Kartini pun sempat menyuarakan nuraninya yang merujit terhimpit kungkungan tembok pingitan itu:

“Sahabat-sahabat ayah yang berbangsa Eropah – ini saya ketahui lama kemudian – telah dengan susah payah mencoba mempengaruhi orang tuaku agar mengubah keputusannya untuk memingit aku yang begitu muda dan begitu penuh gairah hidup ini. Tapi orang tuaku tetap teguh dengan keputusannya. Dan aku tetap dalam kurunganku. Empat tahun yang panjang telah kutempuh dalam kungkungan empat tembok yang tebal tanpa sedikit pun melihat dunia luar.
 

Bagaimana aku dapat melaluinya, aku tak tahu lagi.
Aku hanya tahu bahwa itu MENGERIKAN.”

“Ketahuilah bahwa adat negeri kami melarang keras gadis2 keluar rumah. Ketika saya berusia 12 tahun lalu saya ditahan di rumah; saya mesti masuk tutupan, saya dikurung di dalam rumah seorang diri sunyi senyap terasing dari dunia luar. Saya tiada boleh keluar ke dunia itu lagi bila tiada serta dengan seorang suami, seorang laki-laki yang asing sama sekali bagi kami, dipilih oleh orang tua kami untuk kami, dikawinkan dengan kami, sebenarnya tiada setahu kami.”
(Surat Kartini kepada Zeehandelaar, 25 Mei 1899)

“Jalan kehidupan gadis Jawa itu sudah dibatasi dan diatur menurut pola tertentu. Kami tidak boleh mempunyai cita-cita. Satu-satunya impian yang boleh kami kandung ialah, hari ini atau besok dijadikan istri yang kesekian dari seorang pria. Saya tantang siapa yang dapat membantah ini. Dalam masyarakat Jawa persetujuan pihak wanita tidak perlu. Ia juga tidak perlu hadir pada upacara akad nikah. Ayahku misalnya bisa saja hari ini memberi tahu padaku: Kau sudah kawin dengan si anu. Lalu aku harus ikut saja dengan suamiku. Atau aku juga bisa menolak, tetapi itu malahan memberi hak kepada suamiku untuk mengikat aku seumur hidup tanpa sesuatu kewajiban lagi terhadap aku. Aku akan tetap istrinya, juga jika aku tidak mau ikut. Jika ia tidak mau menceraikan aku, aku terikat kepadanya seumur hidup. Sedang ia sendiri bebas untuk berbuat apa saja terhadap aku. Ia boleh mengambil beberapa istri lagi jika ia mau tanpa menanyakan pendapatku. Dapatkah keadaan seperti ini dipertahankan, Stella?”
(surat Kartini kepada Stella Zeehandelaar, 6 November 1899)

Membaca surat-suratnya, dapatlah kiranya kita mulai mengerti, betapa seorang gadis muda belia yang tengah membara gairahnya melihat dunia lewat jendela sekolah, terbuka luas mata wawasannya, tiba-tiba harus masuk ke pingitan dan dipisahkan dari mimpi-mimpinya, direnggut paksa oleh tradisi kolot aturan feodal di zamannya yang tak memberi ruang bagi wanita untuk mendapatkan hak-hak sederajat dengan pria dalam hal memperoleh kesempatan pendidikan dan masa depan yang lebih baik. Wanita di era Kartini hanya memiliki satu tujuan yang baik di akhirnya, yaitu menikah. Bisa dipahami, betapa selama dalam masa pingitan itu, Kartini yang terbelenggu menjadi berontak lewat tulisan-tulisan pemikirannya, pemberontakan pemikiran yang tidak hanya memikirkan nasib dirinya sendiri, tapi juga nasib rakyat jelata (Kartini adalah separuh ningrat dan separuh rakyat jelata, meski dari garis buyut ibunya masih ada keturunan raja juga) dan kaum wanita yang dibelanya, hendak dibebaskannya melalui jalan yang diyakininya dapat berhasil, yakni lewat penyadaran melalui pendidikan! Curhatannya pada sahabat-sahabatnya lewat surat-suratnya…

“Mengapa kami ditindas? Itu membuat kami memberontak. Mengapa kami harus mundur? Mengapa sayap kami harus dipotong? Tak lain karena tuduhan dan fitnah orang-orang kerdil yang berpandangan picik. Untuk memuaskan orang-orang macam itulah kami harus melepaskan cita-cita kami. Andaikan betul-betul perlu, benar-benar tidak dapat dielakkan, kami akan tunduk. Namun kenyataannya tidak demikian. Segala-galanya berkisar pada pendapat umum. Semua harus dikorbankan untuk itu. Dikatakan: Orang akan bilang ini atau bilang itu, kalau kami lakukan apa yang kami lakukan dengan seluruh jiwa kami. Dan siapakah orang-orang itu? Dan untuk orang-orang macam itu kami harus menekan keinginan kami, harus membunuh cita-cita kami, dan mundur kembali ke alam gelap.” (Kartini, 1901)

“Lalu akan saya robohkan rintangan-rintangan yang dengan bodoh telah dibangun untuk memisahkan kedua jenis. Saya yakin, kalau ini sudah terlaksana, akan banyak manfaatnya, terutama untuk pria. Saya tidak percaya bahwa pria yang berpendidikan dan mempunyai sopan santun akan sengaja menghindari pergaulan dengan wanita-wanita yang berpendidikan dan berpandangan setaraf dengan mereka…”

Luar biasa bukan? Untuk seorang gadis muda belia berusia 22 tahun!!! (3 tahun sebelum meninggal!)

Berikut adalah beberapa goresan pemikiran R.A. Kartini tentang pendidikan dan cintanya pada tanah air…

Tentang Ibu Pertiwi:

“Dalam kebudayaan kita sering disebut-sebut Ibu Pertiwi. Bagi saya Ibu Pertiwi bukanlah suatu dewi. Tetapi apabila kita hendak melambangkan sumber kekuatan dari perlambang itu, marilah kita memandang sumber-sumber yang nyata, yang kongkrit, dalam diri beratus-ratus, beribu-ribu ibu, yang dengan penuh ketekunan mengasuh, menjaga, dan memungkinkan kita memberikan darma bakti kepada nusa dan bangsa, kepada tanah air yang kita cintai bersama.
Ibuku berlalu setelah melaksanakan sumbangsihnya sampai sudah lanjut umurnya. Berlalu dengan mewariskan kemesraan dan kecintaan. Berlalu dengan meninggalkan pesan.
Kita akan meninggalkan tempat ini mungkin dengan tambahan tekad untuk menghargai ibu-ibu yang masih dan yang akan melaksanakan panggilan hidupnya. Mudah-mudahan hal ini merupakan sumbangsih yang kecil dari keluarga kami untuk kekuatan, persatuan dan kesatuan bangsa dan negara, yang sama-sama kita tegakkan dan sama-sama kita cintai.
Kami banggakan kesederhanaan Ibu, yang tetap berhasil menciptakan tazim kami dengan cara beliau sendiri, sehingga dengan keyakinan kami masing-masing yang beliau selalu hormati, kami mempunyai keleluasaan untuk berbakti. Inilah kekuatan dan kekayaan yang kiranya subur di tanah air kita yang sama-sama kita bina dan jaga.
Kesederhanaan saya tonjolkan, karena pesan yang dapat diambil ialah: Dengan kesempatan dan perlengkapan kita yang lebih banyak daripada yang dimiliki Ibu, maka diharapkan dari kita semua peningkatan dari apa yang dicapai oleh beliau.”
(R.A. Kartini)

Tentang Peranan Wanita sebagai Pendidik:

“Siapakah yang akan menyangkal bahwa wanita memegang peranan penting dalam hal pendidikan moral pada masyarakat. Dialah orang yang sangat tepat pada tempatnya. Ia dapat menyumbang banyak (atau boleh dikatakan terbanyak) untuk meninggikan taraf moral masyarakat. Alam sendirilah yang memberikan tugas itu padanya.
Sebagai seorang ibu, wanita merupakan pengajar dan pendidik yang pertama. Dalam pangkuannyalah seorang anak pertama-tama belajar merasa, berpikir dan berbicara, dan dalam banyak hal pendidikan pertama ini mempunyai arti yang besar bagi seluruh hidup anak…”

“Tangan ibulah yang dapat meletakkan dalam hati sanubari manusia unsur pertama kebaikan atau kejahatan, yang nantinya akan sangat berarti dan berpengaruh pada kehidupan selanjutnya. Tidak begitu saja dikatakan bahwa kebaikan ataupun kejahatan itu diminum bersama susu ibu. Dan bagaimanakah ibu Jawa dapat mendidik anak kalau ia sendiri tidak berpendidikan?”

“Hanya sekolah saja tidak dapat memajukan masyarakat. Lingkungan keluarga (orang tua) harus membantu juga. Malahan lebih-lebih dari lingkungan keluargalah yang seharusnya datang kekuatan mendidik. Ingatlah! Keluarga (orang tua) dapat memberikan pengaruhnya siang-malam, sedang sekolah hanya beberapa jam saja…”

“Binalah mereka (putri2 bangsawan) menjadi ibu2 yang pandai, cakap dan sopan. Mereka akan giat menyebarkan kebudayaan di kalangan rakyat. Sadar akan panggilan moral dalam masyarakat mereka akan menjadi ibu2 yang penuh kasih sayang, pendidik yang baik dan berguna bagi masyarakat yang memerlukan bantuan dalam segala bidang.”

(Berikanlah Pendidikan Kepada Bangsa Jawa *baca: Indonesia)
Nota R.A. Kartini tahun 1903 yang dipublikasikan melalui berbagai surat kabar.

Tentang Emansipasi (Ya, kata emansipasi sudah menjadi trend pada era Kartini! Sebagaimana ia menuliskannya sendiri dalam suratnya!):
“Akan datang juga kiranya keadaan baru dalam dunia bumiputra, kalau bukan oleh karena kami, tentu oleh orang lain, kemerdekaan perempuan telah terbayang-bayang di udara, sudah ditakdirkan…”
(Surat R.A. Kartini kepada temannya Zeehandelaar, 9 Januari 1901)
“Bukan hanya suara dari luar saja, suara yang datang dari Eropah yang beradab, yang hidup kembali itu, yang datang masuk ke dalam hati saya, yang jadi sebab saya ingin supaya keadaan yang sekarang ini berubah. Pada masa saya masih kanak-kanak, ketika kata EMANSIPATIE belum ada bunyinya, belum ada artinya bagi telinga saya, serta karangan dan kitab tentang pasal itu masih jauh dari jangkauan saya, telah hidup dalam hati saya suatu keinginan akan bebas, merdeka, berdiri sendiri. Keadaan sekeliling saya memilukan hati, menerbitkan air mata karena sedih yang tidak terkatakan, keadaan itulah yang membangunkan keinginan hati saya itu. Dan karena suara yang datang dari luar yang tiada putus-putusnya sampai kepada saya, keras makin keras jua, maka bibit yang ada dalam hati saya, yaitu perasaan yang merasakan duka nestapa orang lain yang amat saya kasihi, tumbuhlah, sampai berurat berakar, hidup subur serta dengan rindangnya.”
(s.d.a, 25 Mei 1899)

Tentang pergolakan batin dan semangat:
“Siapa yang melihat atau menduga dahsyatnya pergolakan yang menggelora dalam batin gadis remaja ini? Tidak ada seorangpun yang dapat menduganya. Ia menderita seorang diri. Tidak ada orang tua atau saudara yang menduga apa yang bergolak dalam hatinya, dan memberi simpatinya kepadanya. Dimanakah ia akan dapat meletakkan kepalanya yang capek ini dan melepaskan tangis kesedihannya?”
“Memang suatu pekerjaan yang seolah-olah tak mungkin dapat dikerjakan! Tetapi siapa tidak berani, takkan menang! Itulah semboyanku. Maka ayo maju! Bertekad saja untuk mencoba semua! Siapa nekad, mendapat tiga perempat dari dunia!”
*I LOVE HER YOUNG SPIRIT! =)

Tentang para pelopor zaman:
“Pada jaman manapun dan dalam bidang apapun, kaum pelopor selalu mengalami rintangan-rintangan hebat. Itu kami sudah tahu. Tetapi betapa nikmatnya memiliki suatu cita-cita. Suatu panggilan. Katakanlah kami ini orang-orang gila… Atau apa saja… Tetapi kami tidak dapat berbuat lain. Kami tidak berhak untuk tinggal bodoh, bagaikan orang-orang yang tidak berarti. Keningratan membawa kewajiban.”
(Kartini, awal 1900)

Tentang Cita-cita Menjadi Guru:
“Karena saya yakin sedalam-dalamnya bahwa wanita dapat memberi pengaruh besar kepada masyarakat, maka tidak ada yang lebih saya inginkan daripada menjadi guru, supaya kelak dapat mendidik gadis-gadis dari para pejabat tinggi kita. O, saya ingin sekali menuntun anak-anak itu, membentuk watak mereka, mengembangkan pikiran mereka yang muda, membina mereka menjadi wanita-wanita masa depan, supaya mereka kelak dapat meneruskan segala yang baik itu. Masyarakat kita pasti bahagia kalau wanita-wanitanya mendapat pendidikan yang baik… Di dunia wanita kita terdapat banyak derita yang pedih. Penderitaan yang telah saya saksikan waktu saya masih kanak-kanak itulah yang membangkitkan keinginan saya membawa arus yang tidak mau membenarkan saja keadaan-keadaan yang kolot.”
(Kartini, 1901)

“Kami sekali-kali tidak ingin membuat murid-murid kami menjadi orang-orang setengah Eropah atau orang Jawa-Eropah. Dengan pendidikan bebas kami bermaksud pertama-tama membuat orang Jawa menjadi orang Jawa sejati, yang menyala-nyala dengan cinta dan semangat terhadap nusa bangsanya, terbuka dengan mata dan hati terhadap keindahan serta kebutuhannya. Kami hendak memberikan kepada mereka segala yang baik dari kebudayaan Eropah, bukan untuk mendesak atau mengganti keindahan mereka sendiri, melainkan untuk menyempurnakannya.”


Tentang Ningrat dan Kebangsawanan:
“Sebelum kau menanyakan, aku tidak pernah memikirkan bahwa aku, seperti katamu, adalah keturunan ningrat tinggi. Apakah aku seorang putri raja? Bukan. Raja terakhir yang menurunkan kami, mungkin sudah 25 turunan yang lalu. Ibuku masih berhubungan dekat dengan raja-raja Madura. Buyut beliau masih memerintah sebagai raja dan neneknya adalah puteri yang berhak menggantikan raja. Bagiku hanya ada dua jenis kebangsawanan: kebangsawanan jiwa (akal) dan kebangsawanan budi (perasaan). Menurut perasaanku tidak ada yang lebih gila dan menggelikan daripada orang-orang yang membanggakan keturunannya. apakah sebenarnya jasanya dilahirkan sebagai seorang bangsawan? Dengan otakku yang kecil ini aku tidak dapat menangkapnya…”

“Apa gunanya kaum ningrat yang dijunjung tinggi itu bagi rakyat, kalau mereka dipergunakan oleh Pemerintah untuk memerintah rakyat? Sampai sekarang tidak ada, atau sangat sedikit, yang menguntungkan bagi rakyat. Lebih banyak merugikan – kalau kaum ningrat menyalahgunakan kekuasaannya. Ini tidak jarang terjadi. Keadaan demikian itu harus berubah. Kaum ningrat harus pantas untuk bisa dijadikan pujaan rakyat; sehingga akan banyak mafaatnya untuk rakyat. Pemerintah harus membawa kaum ningrat ke arah itu. Dan satu-satunya jalan ialah memberi PENDIDIKAN yang mantap, yang tidak semata-mata didasarkan pada pengembangan intelektuil, melainkan terutama pada pembinaan watak… Banyak sekali contoh yang membuktikan bahwa tingkat kecerdasan otak yang tinggi sama sekali bukan jaminan akan adanya keagungan moral.”


Tentang Kepedulian Kartini pada rakyatnya:
“Tak setetes pun hujan turun dalam tiga minggu ini. Panasnya luar biasa terik. Kami tak pernah mengalami sepanas ini. Bahkan tidak pada musim kemarau yang terkering pun.
Ayah sampai putus asa. Bibit pada di sawah telah menyoklat. O, kasihan! Kasihan rakyatku! Selama ini rakyat di daerah kami selalu kecukupan pangan sehingga mereka tidak pernah mengenal adanya bencana kelaparan. Akan tetapi apa yang belum terjadi bisa saja terjadi. Seperti pada kekeringan di musim hujan ini yang sudah merupakan pertanda buruk. Apa yang akan terjadi kalau kekeringan dan panas yang terik ini berlangsung terus? Sejak beberapa hari ini tiap pagi betiup angin yang biasanya baru datang di bulan Mei. Pancaroba-kah ini? Atau musim kemarau telah bermula?
Ngeri! Kami semua tak berdaya. Betapa sedihnya melihat bibit yang ditanam menyoklat dan layu. Dan kami tak dapat berbuat apa-apa. Manusia tak bisa membuat air.
Kirimkan pada kami dingin dari negerimu. Nyonya boleh mengambil panas dari sini seberapa Nyonya mau.”
(Surat Kartini kepada Nyonya Nellie van Kool)
“Karena musim panas yang berkepanjangan ini, hampir seluruh panen gagal di daerah ini. Daerah sekitar Grobogan paling menderita di mana bencana kelaparan mulai merajalela. Di Demak, di mana 26 ribu bahu sawah gagal dipanen, serangan kolera telah pula mengganas. Sementara orang-orang dengan cemas menunggu datangnya musim hujan yang akan membanjiri daerah ini. Sungguh tanah yang malang! Pada musim kemarau ia gersang dan pada musim hujan ia kebanjiran.”
(Surat Kartini kepada Stella)

Tentang Kebanggaan Kartini atas kerajinan dan kesenian rakyatnya:
“Hura! Untuk kesenian dan kerajinan rakyat kami! Hari depannya sudah pasti akan cemerlang. Aku sulit untuk mengatakan betapa girang, terima kasih dan beruntungnya kami di sini.
Kami sangat bangga atas rakyat kami. Mereka yang kurang dikenal dan karena itu juga kurang dihargai. Hari depan kaum seniman Jepara sekarang sudah terjamin.
Tuan Zimmerman tak habis-habisnya memuji hasil karya para seniman rakyat berkulit coklat yang sering dihina ini. Para pengrajin kami di sini baru saja mendapat pesanan besar dari Oost en West untuk perayaan hari Sinterklaas.
Kami menikmati anugerah ini. Kini seniman-seniman yang cakap itu dapat menuangkan gagasan-gagasan mereka yang indah. Gagasan yang puitis pun dapat terjelma dalam bentuk-bentuk yang indah, garis-garis yang ramping, mengombak dan melenggok dalam warna-warna cemerlang.”
(Surat Kartini kepada E.C. Abendanon, anak dari Mr. J.H. Abendanon)

Tentang kecintaan Kartini menjadi bagian dari rakyatnya:
“Untuk pertama kali namaku disebut di muka umum bersama rakyatku. Di situlah tempat namaku seterusnya. Aku bangga Stella, bahwa namaku disebut senafas dengan rakyatku!”
*I LOVE THESE WORDS!!! Gila, sampai merinding membacanya hingga mata berkaca-kaca! ^^;

Tentang kesadarannya akan adanya Tuhan:
“… Banyak sekali kejadian pada waktu akhir2 ini menunjukkan bahwa manusia hanya menimbang2. Tuhanlah yang akhirnya menetapkan. Semua itu merupakan peringatan kepada kita semua yang berpandangan picik supaya kita jangan sombong: jangan mengira bahwa kita mempunyai ‘kemauan sendiri’. ada suatu Kekuasaan yang lebih tinggi dan lebih besar daripada semua kekuasaan di dunia. Ada Kemauan yang lebih kuat dan lebih kuasa daipada semua kemauan manusia dijadikan satu. Celakalah orang yang membusungkan dadanya dan mengira bahwa kemauannya adalah sekuat baja! Hanya ada satu kemauan yang boleh dan harus kita miliki, yaitu kemauan untuk mengabdi kepada Kebaikan!… Sekarang kami memegang erat tangan Dia. Dia-lah yang mengarahkan kami, menilai dengan penuh kasih sayang… Di situ GELAP MENJADI TERANG, taufan menjadi angin tenang. Sebetulnya semua di sekitar kami masih sama saja, tetapi bagi kami telah tidak sama lagi. Telah terjadi perubahan dai dalam kami yang menyinari segala2nya dengan cahaya-Nya. Kami merasa tenang dan damai dalam jiwa kami… Kami selalu memohon agar diberi kekuatan untuk memikul baik duka maupun suka. Terutama dalam suka, sebab dalam bersuka ria terdapat godaan… Kami tak dapat mengatakan betapa besar terima kasih kami bahwa kami telah berkenalan dengan Nyonya van Kol…”
“… Tahukah kau siapa yang membuka tabir di muka mata kami? Ialah: Nellie van Kol. Tetapi yang sekarg menuntun kami untuk menemukan Tuhan ialah Ibu. Sungguh bodoh kami ini. Sepanjang hidup kami memiliki mutiara segunung di samping kami, tetapi kami tidak melihatnya, tidak mengetahuinya. Sungguh, betul2 bodoh dan sok tahu kami ini. Dan kau sekarang tak dapat membayangkan betapa bahagia Ibu dan para sesepuh lainnya, melihat perubahaan hidup kejiwaan kami. Tak satu kata celaan keluar dari mulut mereka. Hanya: ‘Tuhan baru sekarang berkenan membuka hati kalian. Bersyukurlah!’”.
(Surat Kartini kepada anak Abendanon)
Tentang Angan-angan Kartini:
“… Semoga melalui banyak sekali penderitaan dan kesedihan, kami berhasil menciptakan sesuatu. Bagi rakyat kami. Terutama yang bermanfaat bagi kaum wanita kami – bagaimanapun kecilnya. Andaikata ini pun tidak terlaksana, semoga penderitaan dan perjuangan kami berhasil menarik perhatian khalayak ramai terhadap keadaan-keadaan yang perlu diperbaiki. Dan andaikata itu pun tidak dapat kami capai, wahai, setidaknya kami telah berusaha berbuat baik, dan kami yakin benar bahwa air mata kami, yang kini nampaknya mengalir sia-sia itu, akan ikut menumbuhkan benih yang kelak akan mekar menjadi bunga-bunga yang akan menyehatkan generasi-generasi mendatang.”

Sumber:  http://sosok.kompasiana.com/2012/04/20/surat-surat-R.A.KARTINI

 11 total views,  1 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *